Webflow, pembuat situs web dan platform hosting tanpa kode yang populer, telah mengakuisisi Vidoso, alat pembuat konten bertenaga AI. Langkah ini menandakan pergeseran strategis Webflow menuju platform pemasaran yang lebih komprehensif, bukan sekadar layanan pembuatan situs web.
Inti dari Kesepakatan
Didirikan pada tahun 2024, Vidoso menggunakan model bahasa besar (LLM) untuk mengotomatisasi pembuatan berbagai materi pemasaran. Ini termasuk gambar, presentasi, klip video pendek (berasal dari konten yang lebih panjang seperti ceramah atau diskusi panel), postingan blog, dan pembaruan media sosial. Platform ini menyederhanakan produksi konten dengan mengubah materi yang ada ke dalam berbagai format, suatu kemampuan yang ingin diintegrasikan oleh Webflow langsung ke dalam alur kerjanya.
Tim Vidoso yang beranggotakan empat orang akan bergabung dengan Webflow secara penuh waktu, dengan rincian keuangan akuisisi tetap dirahasiakan. Startup ini sebelumnya mengumpulkan $3,7 juta dari investor termasuk Aspenwood Ventures, Emergent Ventures, dan Tau Ventures.
Mengapa Ini Penting: Bangkitnya Pemasaran Berbasis AI
CEO Webflow, Linda Tong, menekankan bahwa akuisisi ini lebih dari sekadar menambahkan fitur lain. Dia memandangnya sebagai langkah mendasar untuk memposisikan Webflow sebagai “platform pemasaran agen”. Perusahaan yakin banyak organisasi berjuang dengan departemen pemasaran yang tidak terhubung. Alat AI dapat mempercepat pembuatan konten, namun sering kali beroperasi secara terpisah, sehingga menghasilkan branding yang tidak konsisten dan alur kerja yang tidak efisien.
“Model Frontier dilatih berdasarkan rata-rata internet, bukan pada spesifikasi merek Anda. Gelombang pertama AI memberi tim pemasaran AI yang kuat namun tidak dapat dikendalikan yang mampu menghasilkan konten umum, namun tidak mengetahui sistem merek, aturan, templat, dan alur kerja persetujuan yang menjaga pemasaran perusahaan tetap koheren.” – Sharad Verma, CEO Vidoso.
Akuisisi ini mengatasi keterbatasan utama alat AI awal: kurangnya tata kelola merek. Vidoso dirancang untuk menjembatani kesenjangan ini dengan memastikan konten yang dihasilkan AI mematuhi pedoman merek dan proses persetujuan yang ada.
Strategi Webflow yang Lebih Luas
Ini bukan langkah pertama Webflow di bidang pemasaran. Perusahaan ini sebelumnya mengakuisisi Intellimize, sebuah startup personalisasi situs web, pada tahun 2024 dan meluncurkan integrasi Google Ads untuk meningkatkan pelacakan kinerja awal tahun ini. Tujuannya adalah untuk menciptakan platform terpadu tempat pembuatan konten, manajemen kampanye, dan analisis kinerja terjadi dengan lancar dalam Webflow.
Persaingan dan Tantangan
Webflow menghadapi persaingan dari semakin banyak startup pemasaran yang didukung AI, serta raksasa teknologi mapan yang menawarkan alat serupa. Namun, Tong yakin solusi end-to-end Webflow—yang mengintegrasikan pembuatan konten, penerapan, dan analisis—akan membedakannya. Dia berpendapat bahwa banyak alat AI menghasilkan konten tanpa memberikan umpan balik penuh yang diperlukan untuk perbaikan berkelanjutan.
Nilai sebenarnya terletak pada menangkap wawasan dari konten yang diterapkan, menganalisis kinerja, dan memasukkan data tersebut kembali ke sistem AI untuk disempurnakan. Webflow bertujuan untuk menyediakan siklus lengkap ini dalam platformnya, tidak seperti pesaing yang membiarkan pengguna mengintegrasikan alat terpisah secara manual.
Kesimpulannya, akuisisi Vidoso oleh Webflow mewakili pertaruhan yang signifikan terhadap masa depan pemasaran berbasis AI. Perusahaan ini memposisikan dirinya sebagai pusat bagi merek-merek yang ingin mengotomatiskan dan mengoptimalkan proses pembuatan konten dan manajemen kampanye mereka, bukan sekadar alat pembuatan situs web.















































