Selama beberapa dekade, John Bolton adalah sosok yang paling dikenal dalam mendukung kebijakan agresif AS terhadap Iran, termasuk perubahan rezim melalui intervensi militer. Sikap agresifnya konsisten sepanjang perannya sebagai Duta Besar PBB di bawah George W. Bush dan Penasihat Keamanan Nasional di bawah Donald Trump. Namun, bahkan Bolton kini dengan tajam mengkritik pendekatan pemerintahan Trump dalam meningkatkan ketegangan dengan Iran, dengan alasan bahwa pendekatan tersebut tidak memiliki kedalaman strategis dan perencanaan yang koheren.
Penentangan yang tidak terduga ini menimbulkan pertanyaan kritis: mengapa salah satu pendukung utama aksi militer Amerika terhadap Iran kini mengecam tindakan yang dilakukan saat ini? Jawabannya terletak pada penilaian Bolton bahwa Trump gagal memberikan landasan bagi perubahan rezim yang berarti, baik di dalam negeri maupun internasional.
Kasus Perubahan Rezim
Bolton menegaskan bahwa rezim Iran tidak akan meninggalkan ambisi nuklirnya atau dukungannya terhadap kelompok teroris. Ia yakin pergantian rezim adalah satu-satunya solusi yang layak, mengingat kelemahan internal Iran – ketidakstabilan ekonomi, ketidakpuasan yang meluas di kalangan pemuda dan perempuan, serta ketegangan etnis – yang menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk melakukan intervensi.
Namun, ia berpendapat bahwa kegagalan Trump dalam membangun dukungan publik dan kongres, berkonsultasi dengan sekutu, atau berkoordinasi dengan kelompok oposisi Iran telah merusak peluang keberhasilan. Bolton menekankan bahwa pergantian rezim memerlukan strategi yang jelas, bukan hanya tindakan militer.
“Jika Anda ingin mencapai tujuan pergantian rezim, Anda harus tahu apa yang Anda hadapi dan bertekad untuk berusaha mencapainya. Dan jika Anda merasa tidak bisa mencapainya, maka jangan memulainya.”
Kegagalan Persiapan
Bolton berpendapat bahwa Trump tidak pernah mempersiapkan masyarakat Amerika atau Kongres secara memadai terhadap potensi konsekuensi tindakan militer. Dia menekankan bahwa setiap upaya perubahan rezim yang kredibel memerlukan artikulasi yang jelas mengenai kepentingan nasional, transparansi dengan sekutu, dan koordinasi dengan kekuatan oposisi internal.
Sebaliknya, Trump dilaporkan mengabaikan proses pengambilan keputusan yang sudah ada di Dewan Keamanan Nasional, sehingga melemahkan perdebatan dan perencanaan strategis. Bolton menunjuk pada penunjukan seorang individu untuk mengawasi masalah Keamanan Negara dan Nasional sebagai bukti lebih lanjut dari kurangnya pemikiran strategis.
Situasi Saat Ini
Bolton percaya bahwa meskipun terjadi serangan militer baru-baru ini, Iran masih mampu membangun kembali program nuklir dan jaringan terorisnya. Ia berpendapat bahwa tanpa rencana komprehensif untuk pergantian rezim, tindakan yang dilakukan saat ini hanya akan menunda, bukan mencegah, ancaman di masa depan.
Situasi ini semakin diperumit dengan penggantian tokoh-tokoh penting rezim dengan tokoh-tokoh garis keras. Bolton menyarankan bahwa jika Trump tidak mau berkomitmen pada upaya berkelanjutan menuju perubahan rezim, ia harus mencari strategi alternatif daripada meningkatkan ketegangan tanpa tujuan yang jelas.
Kesimpulannya: Bahkan John Bolton, seorang pendukung intervensi militer di Iran, percaya bahwa pendekatan pemerintahan Trump saat ini cacat dan kontraproduktif. Kritiknya menggarisbawahi pentingnya perencanaan strategis, dukungan dalam negeri, dan koordinasi internasional ketika mempertimbangkan pergantian rezim, sebuah tujuan yang tampaknya gagal di bawah kepemimpinan saat ini.















































