NASA sedang bersiap untuk meluncurkan misi berawak pertamanya ke Bulan dalam lebih dari 50 tahun, dengan potensi pembukaan jendela peluncuran paling cepat tanggal 1 April. Misi Artemis II akan mengirimkan empat astronot dalam penerbangan lintas bulan, menandai momen penting dalam eksplorasi ruang angkasa. Peluncuran telah ditunda beberapa kali karena masalah teknis, termasuk kebocoran bahan bakar hidrogen dan masalah aliran helium, sehingga roket Space Launch System (SLS) sepanjang 98 meter harus menjalani perbaikan di Kennedy Space Center di Florida.
Artemis II: Kembalinya ke Orbit Bulan yang Telah Lama Ditunggu
Misi Artemis II merupakan langkah penting dalam ambisi NASA untuk menciptakan kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan. Tanggal peluncuran awal diundur karena kompleksitas roket SLS, sistem baru dan kuat dengan risiko yang melekat. Menurut pejabat NASA, ini bukanlah penerbangan rutin; roket baru secara historis memiliki peluang sukses 50%.
“Ini adalah uji terbang dan bukannya tanpa risiko, namun tim dan perangkat keras kami sudah siap,” kata Lori Glaze, Wakil Administrator Asosiasi Direktorat Misi Pengembangan Sistem Eksplorasi NASA.
Badan tersebut memiliki waktu peluncuran enam hari pada awal April, dan kegagalan untuk meluncurkan dalam periode ini akan mengakibatkan penundaan hingga akhir April atau awal Mei. Kesenjangan yang berkepanjangan antar penerbangan memperburuk risiko, karena roket SLS belum pernah terbang dengan awak sebelumnya, sehingga membuat penilaian risiko yang tepat menjadi sulit.
Perombakan Program dan Misi Masa Depan
Administrator baru NASA, Jared Isaacman, telah memulai perombakan besar-besaran pada program Artemis untuk mempercepat laju misi bulan. Rencana yang direvisi mencakup uji penerbangan orbital tambahan pada tahun 2025 (sekarang Artemis III) sebelum pendaratan berawak pertama (Artemis IV), dengan tujuan dua pendaratan di bulan pada tahun 2028. Pergeseran ini mencerminkan dorongan untuk mengurangi penundaan dan menciptakan irama yang lebih teratur untuk eksplorasi bulan.
Namun, percepatan waktu bukan berarti tanpa kekhawatiran. Audit baru-baru ini dari Kantor Inspektur Jenderal NASA menyoroti kurangnya strategi penyelamatan yang jelas bagi awak bulan. Pendaratan di dekat kutub selatan Bulan menghadirkan tantangan unik karena medan yang berat, dan laporan tersebut mengidentifikasi pendarat di bulan sebagai kontributor signifikan terhadap potensi hilangnya awak, dan memperkirakan risiko sebesar 1 dari 40 untuk operasi bulan dan 1 dari 30 secara keseluruhan.
Keterlibatan Sektor Swasta dan Kendala Teknis
SpaceX dan Blue Origin, yang dikontrak oleh NASA untuk menyediakan pendarat di bulan, berupaya memenuhi target tahun 2028. Kantor inspektur jenderal menunjukkan bahwa tantangan teknis yang besar masih ada, terutama dalam pengisian bahan bakar pendarat di orbit Bumi sebelum perjalanan mereka ke bulan.
Terlepas dari kendala-kendala ini, NASA memiliki sejarah kesuksesan yang kuat dalam penerbangan luar angkasa berawak. Selama program Apollo, 24 astronot mengunjungi Bulan, dengan 12 orang mendarat di permukaannya. Hanya satu misi, Apollo 13, yang mengalami keadaan darurat penerbangan besar, namun tetap mengembalikan awaknya dengan selamat ke Bumi. Program Artemis berupaya untuk melanjutkan warisan ini, namun dengan tambahan kompleksitas teknologi modern dan keharusan untuk beroperasi secara lebih efisien.
Misi Artemis II mewakili lompatan maju yang signifikan dalam eksplorasi bulan. Risikonya nyata, namun NASA bertekad untuk melampaui batas-batas penerbangan luar angkasa manusia dan membangun kehadiran permanen di Bulan.
