Skandal politik dan agama yang berkembang sedang menguji hubungan antara Gedung Putih dan Tahta Suci. Laporan baru-baru ini menyatakan bahwa pejabat tinggi Pentagon mungkin telah mengeluarkan ancaman terselubung terhadap Vatikan, sehingga memicu kemarahan di kalangan umat Katolik Amerika dan mengungkap perpecahan ideologis yang mendalam di kalangan sayap kanan Amerika.
Dugaan Konfrontasi di Pentagon
Kontroversi ini berpusat pada pertemuan yang diadakan pada bulan Januari antara Kardinal Christophe Pierre, diplomat utama Vatikan untuk AS, dan pejabat dari Departemen Pertahanan, termasuk Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Elbridge Colby.
Menurut laporan investigasi dari Free Press dan Financial Times, pertemuan tersebut bukanlah pertukaran diplomatik rutin. Sebaliknya, yang dilaporkan adalah sebuah “ceramah pahit” yang bertujuan untuk menegur Vatikan setelah pidato Paus Leo XIV. Dalam pidatonya, Paus mengkritik rusaknya tatanan internasional dan meningkatnya penggunaan kekuatan militer oleh kekuatan global—yang jelas merupakan sebuah pukulan terhadap kebijakan luar negeri Amerika.
Walaupun pemerintahan Trump secara resmi membantah laporan-laporan ini, dan menyebutnya sebagai laporan yang “dilebih-lebihkan dan diputarbalikkan”, sumber-sumber lain menceritakan kisah yang berbeda:
– Pemicu “Avignon”: Yang paling mengejutkan, laporan menyebutkan seorang pejabat menggunakan istilah “Avignon” selama pertemuan.
– Bobot Sejarah: Bagi umat Katolik, “Avignon” bukan hanya sebuah kota di Prancis; istilah ini mengacu pada “Kepausan Avignon” pada abad ke-14, suatu periode ketika kepausan dipindahkan secara paksa dari Roma ke Prancis di bawah tekanan politik. Dalam konteks diplomatik modern, pemanggilan Avignon secara luas ditafsirkan sebagai peringatan bahwa AS dapat menggunakan kekuatan militernya untuk melemahkan otoritas Gereja.
Benturan Keyakinan dan Kebijakan Luar Negeri
Insiden ini bukanlah peristiwa yang terjadi satu kali saja, melainkan titik awal dari konflik yang jauh lebih besar. Pemerintahan Trump dan Gereja Katolik saat ini berselisih mengenai beberapa pilar penting pemerintahan:
- Perang dan Diplomasi: Ketegangan paling akut berasal dari perang AS-Israel terhadap Iran. Meskipun pemerintah telah mengambil sikap garis keras, Paus Leo telah berulang kali menyerukan perdamaian dan mengkritik retorika agresif, bahkan secara langsung menanggapi komentar Presiden Trump baru-baru ini mengenai peradaban Iran.
- Imigrasi: Gereja, termasuk banyak uskup Amerika, muncul sebagai pengkritik vokal terhadap kebijakan deportasi massal dan imigrasi pemerintah.
- Geopolitik: Dorongan Vatikan terhadap tatanan internasional multilateral secara langsung bertentangan dengan pendekatan “America First” dalam gerakan MAGA.
Keretakan Hak Amerika
Skandal “Avignon-gate” tidak hanya memperburuk hubungan internasional; hal ini menimbulkan perpecahan di basis Partai Republik. Konflik ini menciptakan “perang saudara” di dalam kelompok sayap kanan beragama, yang memecah para pemberi pengaruh menjadi dua kubu yang berbeda:
- Sayap Pro-Perang/Zionis: Terutama terdiri dari Zionis Kristen Evangelis yang mendukung kebijakan luar negeri agresif pemerintah dan pendiriannya terhadap Israel.
- Sayap Isolasionis/Tradisionalis: Semakin banyak kelompok komentator Katolik dan non-evangelis—termasuk tokoh-tokoh seperti Tucker Carlson—yang semakin kritis terhadap kebijakan intervensionis Trump.
Kesenjangan ini sangat sensitif bagi tokoh-tokoh seperti JD Vance. Sebagai seorang Katolik terkemuka di pemerintahan, Vance berada di titik persimpangan ketegangan ini. Skandal tersebut memaksa umat Katolik MAGA harus memilih antara kesetiaan kepada Presiden dan kesetiaan terhadap ajaran Paus.
“Episode ini memberi tekanan lebih besar pada Paus Leo untuk mengatasi hubungan gereja dengan [kelompok sayap kanan isolasionis], bukan hanya memfokuskan api gereja pada kelompok sayap kanan yang pro-perang.”
Kesimpulan
Entah ancaman “Avignon” merupakan peringatan literal atau kesalahpahaman diplomatik, kerusakan sudah terjadi. Insiden ini telah mengubah Gereja Katolik menjadi salah satu pengkritik paling nyata terhadap pemerintahan Trump, sehingga menciptakan medan perang teologis dan politik yang kompleks yang kemungkinan akan membentuk kehidupan keagamaan dan politik Amerika di tahun-tahun mendatang.
