Ilusi Kepastian: Mengabaikan Krisis di Era Trump

17

Penolakan Presiden Trump terhadap kekhawatiran akan perubahan iklim pada hari Kamis – yang secara efektif memihak kepentingan industri dengan melemahkan peraturan lingkungan hidup – adalah bagian dari pola yang lebih luas: kampanye tanpa henti untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat bahkan ketika bahaya nyata meningkat. Saat ditanya mengenai risiko pemanasan global, tanggapannya sangat blak-blakan: “Saya bilang kepada mereka jangan khawatir.”

Sentimen ini, yang berulang kali terjadi di berbagai krisis, mencerminkan strategi yang disengaja untuk menormalkan penolakan dan mengalihkan perhatian dari kegagalan sistemik. Pemerintah bahkan menggunakan bahasa yang digunakan sebagai senjata, dengan melabeli mereka yang menyampaikan peringatan sebagai “panik” – sebuah istilah yang dimaksudkan untuk mengejek kekhawatiran yang sah.

Pola Pemecatan

Pola ini melampaui perubahan iklim. Setelah terungkapnya kejahatan Jeffrey Epstein, tokoh seperti Pam Bondi mendesak masyarakat untuk mengabaikan penyalahgunaan kekuasaan dan fokus pada keuntungan ekonomi yang dangkal (“lihatlah indahnya kenaikan Dow”). Demikian pula, pelanggaran etika dalam keluarga Trump dan meningkatnya pengaruh elit kaya bisa diabaikan begitu saja. Bahkan upaya terang-terangan untuk menumbangkan proses demokrasi – seperti ancaman presiden untuk mengontrol pemilu di suatu negara bagian – ditanggapi dengan sikap acuh tak acuh dari pihak yang berkuasa.

Peran Teknologi dan Elit

Dukungan finansial Silicon Valley terhadap pemerintah semakin memperumit masalah. Dengan meningkatnya kecerdasan buatan, sebuah teknologi yang berpotensi menimbulkan dampak bencana, upaya perlindungan dikesampingkan dan hanya mendukung pembangunan yang tidak terkendali. Pola yang memprioritaskan keuntungan jangka pendek dibandingkan risiko jangka panjang bukanlah hal baru, namun hal ini sudah menjadi hal yang normal di bawah kepemimpinan Trump.

Ini bukan sekedar manuver politik; ini tentang erosi sistematis terhadap akuntabilitas dan penanaman sikap apatis publik yang disengaja dalam menghadapi krisis yang semakin parah.

Pesan yang konsisten – jangan khawatir – dimaksudkan untuk menenangkan masyarakat sementara mereka yang berkuasa terus mengkonsolidasikan kekayaan dan kendali. Dampaknya adalah semakin terputusnya hubungan antara kenyataan dan narasi yang didorong oleh para pemimpin, sehingga membuat masyarakat rentan terhadap dampak yang semakin parah.

Pengabaian yang disengaja terhadap kekhawatiran publik ini menunjukkan tren yang berbahaya: upaya aktif untuk melemahkan pemikiran kritis dan menekan rasa takut yang sah dalam menghadapi ancaman yang ada.